BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pendidikan
Islam sendiri pada hakekatnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan
seseorang dapat mengarahkan kehidupan sesuai sengan cita-cita islam, sehingga
dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran islam. Pendidikan merupakan faktor penting yang menentukan
kehidupan manusia. Pendidikan juga sebagai penopang sebuah Negara, pendidikan
merupakan suatu keniscayaan bagi sebuah negara yang menginginkan pencapaian
kemajuan dalam segala bidang. Tanpa SDM yang mumpuni kemajuan sebuah negara
adalah mustahil dan untuk menghasilkan SDM yang mumpuni inilah dibutuhkan
sistem pendidikan yang baik. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pendidikan
diartikan sebagai perbuatan, (hal, cara dan sebagainya) mendidik.
Selain itu, pendidikan dapat
diartikan sebagai segala kegiatan yang berorientasi pada pengembangan,
pengarahan dan pembentukan kepribadian. Melalui pendidikan, manusia bisa
meningkatkan kualitas hidupnya. Kemajuan yang dicapai peradaban Islam di zaman
kekhalifahan tak lepas dari keberhasilan dunia pendidikan. Pada zaman itu,
kota-kota Islam telah menjelma menjadi pusat pendidikan dan peradaban yang
sangat maju. Perkembangan dunia pendidikan tentunya tidak akan terlepas dari
sumbangsih para ilmuwan yang mencurahkan segala perhatiannya pada dunia
pendidikan ini. Begitu pun yang dilakukan oleh para ulama sebagai yang merasa
berkewajiban untuk menyebarluaskan ilmu-Nya.
Ibnu Khaldun, al Ghazali, Ibn Taimiyah dan yang lainnya adalah intelektual
muslim yang mempunyai andil terhadap pendidikan, dimana mereka memberikan
pemikirannya tentang konsep pendidikan.
B. Rumusan Masalah
Dari
uraian diatas timbul beberapa pertanyaan yang akan dibahas dalam makalah ini :
1. Bagaimana konsep pendidikan menurut Ibnu Kholdun,
al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina?
2. Bagaimana
kurikulum pendidikan menurut Ibn Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina?
C. Tujuan
Dari
pertanyaan diatas, tujuan ditulisnya makalah ini adalah :
1. Untuk
mengetahui konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan
Ibn Sina.
2. Untuk
mengetahui kurikulum pendidikan yang
digagas Ibnu Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep
pendidikan menurut Ibn Khaldun.
1. Tujuan
pendidikan
a. Pengembangan
kemahiran dalam bidang tertentu. Potensi
kemahiran tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar
memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini para pakar
(ilmuwan) yang memiliki kemahiran secara sempurna. Sementara untuk sampai pada
tahap ini diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
b. Penguasaan
keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam hal ini pendidikan
hendaknya ditujukan untuk memperoleh keterampilan yang tinggi pada profesi
tertentu. Pendidikan yang meletakkan keterampilan sebagai salah satu tujuan
yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan memajukan
peradaban secara keseluruhan.
c. Pembinaan
pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia
dengan binatang. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diformat dan
dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan
potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan akal, akan dapat
membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam
kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.[1]
d. Meningkatkan
kerohanian manusia. Dengan pendidikan manusia akan dapat melaksanakan dan
menjalankan praktek ibadah dengan benar, zikir , khalwat ( menyendiri), mengasingkan diri dari
khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan beribadah sebagaimana yang
dilakukan para sufi.[2]
2. Kurikulum
pendidikan
Pemikiran khaldun tentang kurikulum
pendidikan dapat dilihat dari konsep epistemologinya, menurutnya ilmu
pengetahuan dalam kebudayaan umat islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu:
ilmu pengetahuan syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan
syar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran agama islam, ilmu tersebut
diantaranya adalah tentang Al-Quran, hadist, prinsip-prinsip syariah, fiqh,
teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi : logika,
ilmu pengetahuan alam (fisika), dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga
sering disebut sains alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan potensi akalnya,
setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasai dengan baik. Ilmu pengetahuan
syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta
didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses
mengajarkannya. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekontruksi
kurikulum pendidikan islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu
mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun
peradaban umat manusia.[3]
3. Proses
Pengajaran.
Menurut Ibnu Khaldun
pengajaran dipandang suatu skill, karena itu, ia melakukan reaksi dan
rekonstruksi terhadap keformalan kosong metodologi pengajaran pada zamannya.
Metode yang lazim dipakai pada masa itu adalah drill dan hafalan, sehingga
lahir budaya verbalistik dan membeo. Dari realitas yang terjadi ini, memunculkn
gagasan pengajaran secara tiga tahap yaitu:[4]
a. Penyajian
global. Pertama guru menyajikan kepada subjek didik hak-hal pokok,
problem-problem prinsipil dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab.
Keteranga-keterangan juga diberikan secara global dengan memperhatikan potensi
intelek dan kesiapan subjek dalam menerima palajaran. Apabila dengan cara ini
seluruh pembahasan pokok dikuasai, maka dia telah memperoleh satu makala dalam
cabang ilmu yang ia pelajari yang masih bersifat persial.
b. Pengembangan(
al-Syarh wal bayan). Guru menyajikan dan melatih kembali pengetahuan atau
keterampilan dalam pokok bahasan itu kepada anak didik dalam taraf yang lebih
tinggi. Pada tahapan ini guru harus menjelaskan aspek-aspek yang terjadi
kontradiksi di dalamnya. Disertai dengan ragam pandangan teori yang terdapat
pada mareti tersebut. Pada tahap ini pembahasan keseluruhannya sekali lagi
diliput hunggi makalah subjek menjadi lebih sempurna.
c. Penyimpulan(
takhallus). Pada tahapan terakhir ini guru secara mendalam menyajikan pokok
bahasan lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang menyeluruh. Semua masalah
yang dianggap urgen, sulit serta belum jelas dituntaskan pada tahapan ini. Pada
tahapan penugasan memungkinkan pencapaian makalah subjek belajar lebih
sempurna.
Ibnu Khaldum
mengemukakan teori penstrukturan pengajaran tiga tahapan ini merupakan hasil
analisis observasi terhadap metodologi pengajaran yang diterapkan pada masa
itu.
B. Konsep
Pendidikan Menurut Al Ghazali.
1. Tujuan
Pendidikan Al Ghazali.
Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan
filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Rumusan tujuan akan
menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan
pendidikan. Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui
dengan jelas, bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan
ada dua. Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan
diri kepada Allah, dan kedua kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan
dunia dan akhirat. Karena itu ia bercita-cita mengajarkkan manusia agar mereka
sampai pada sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud pendidikan
itu. Tujuan ini tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah
duniawi.[5]
Tetapi dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk masalah-masalah dunia itu
hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang
lebih utama dan kekal.
Akan tetapi pendapat Al-Ghazali tersebut,
di samping bercorak agamis yang merupakan ciri spesifik pendidikan islam.
Tampak pula cenderung kepada sisi kerohanian. Dan kecenderungan tersebut
menurut keadaannya yang sebenarnya, sejalan dengan filsafat al-Ghazali yang
bercorak tasawuf. Maka sasaran pendidikan, menurut Al-Ghazali adalah
kesepurnaan insani dunia dan akhirat. Dan manusia akan sampai kepada tingkat
kesempurnaan itu hanya dengan mengusai sifat keutamaan melalui jalur ilmu.
Keutamaan itulah yang akan membuat dia bahagia di dunia dan mendekatkan dia
kepada Allah SWT.
2.
Kurikulum
Pendidikan.
Konsep kurikulum yang dikemukakan Al-Ghazali terkait erat dengan
konsepnya mengenai ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Al-Ghazali ilmu terbagi
kepada tiga bagian, sebagai berikut :[6]
Pertama, ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu
ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun diakhirat, seperti
ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan Al-Ghazali menilai ilmu tersebut
tercela karena ilmu-ilmu tersebut terkadang dapat menimbulkan mudharat
(kesusahan) baik bagi yang memilikinya, maupun bagi orang lain.
Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu
ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperi ilmu
yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat
menjadi bekal bagi seseorang untuk mengetahui yang baik dan melaksanakannya,
ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia tentang cara-cara mendekatkan diri kepada
Allah dan melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, serta dapat membekali hidupnya
di akhirat.
Ketiga, ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit
dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, kerena dengan mempelajarinya
secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinya kekacauan dan kesemprawutan
antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kepada kekafiran,
seperti ilmu filsafat. Mengenai ilmu filsafat dibagi oleh Al-Ghazali menjadi
ilmu matematika, ilmu-ilmu logika, ilmu ilahiyat, ilmu fisika, ilmu politik dan
ilmu etika.
Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al-Ghazali memberi perhatian
khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana dilakukannya terhadap
ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain,
ia mementingkan sisi yang faktual dalam kehidupan, selain itu al-Ghazali juga
menekankan sisi-sisi budaya. Dari sifat dan corak ilmu-ilmu yang dikemukakan di
atas, terlihat dengan jelas bahwa mata pelajaran yang seharusnya diajarkan dan
masuk ke dalam kurikulum menurut Al-Ghazali didasarkan pada dua kecenderungan
sebagai berikut:
a.
Kecenderungan
agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat Al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu
agama di atas segalanya dan memandangnya sebagai alat untuk mensucikan diri dan
membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia. Dengan kecenderungan ini, maka
Al-Ghazali sangat mementingkan pendidikan etika, karena menurutnya ilmu ini
bertalian erat dengan pendidikan agama.
b. Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan
ini tampak dalam karya tulisnya. Al-Ghazali beberapa kali mengulangi
penilaiannya terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Baik untuk
kehidupan di dunia, maupun untuk kehidupan diakhirat. Bagi Al-Ghazali setiap
ilmu harus dilihat dari segi fungsi dan kegunaannya dalam bentuk amaliah. Dan
setiap amaliah yang disertai ilmu itu harus pula disertai dengan kesungguhan
dan niat yang tulus ikhlas.
Dengan
melihat sisi pemanfaatan dari suatu ilmu ini, tampak Al-Ghazali tergolong
sebagai penganut paham pragmatis teologis. Yaitu pemanfaatan yang didasarkan atas
tujuan iman dan dekat dengan Allah SWT. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari
sikapnya sebagai seorang sufi yang memiliki trend praktis dan faktual.
3.
Metode
Menurut al-Ghazali metode perolehan ilmu dapat dibagi berdasarkan
jenis ilmu itu sendiri, yaitu pertama Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode
atau cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan
bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan, yang
mana memperolehnya dapat menggunakan pendekatan ta’lim insani. Kedua Ilmu
ladunni dapat diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses
perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya
cahaya ilahi dalam qalbu, yang mana memperolehnya adalah menggunakan pendekatan
ta’lim rabbani.
Selain itu, al-Ghazali juga memakai pendekatan behavioristik dalam
pendidikan yang dijalankan. Hal ini terlihat dari pernyataannya, jika seorang
murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika
melanggar hendaklah diperingatkan, bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu
berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan
reward dan punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi.
Menurut al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu
proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang
setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang
berlainan.[7]
Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan
antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena
memberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan
pengetahuan yang didapatkannya.
C.
Konsep
Pendidikan Menurut Ibn Taimiyah.
1.
Tujuan
Pendidikan.
Menurut
Ibn Taimiyah, tujuan pendidikan dapat dibagi tiga bagian:[8]
a.
Tujuan
Individual. Pada bagian ini tujuan pendidikan
diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang
yang berfikir, merasa, dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap
waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan al Quran dan as Sunnah.
b.
Tujuan
Sosial, diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan
ketentuan al Quran dan as Sunnah. Tujuan tersebut sejalan dengan pendapatnya
yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki dua sisi kehidupan yaitu sisi
kehidupan individual yang berhubungan dengan beriman kepada Allah; dan sisi
kehidupan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, tempat dimana manusia itu
hidup. Pada tujuan sosial ini pendidikan diarahkan agar dapat melirkan
manusia-manusia yang dapat hidup bersama dengan orang lain, saling membantu,
mensehati,dan mengatasi masalah.
c.
Tujuan
Dakwah Islamiyah. Untuk mencapainya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu
menyebar luaskan ilmu dan ma’rifat yang didatangkan al Quran; dengan cara
berijtihad yang sungguh-sungguh sehingga kalimat Allah dapat berdiri tegak.
2.
Kurikulum
Pendidikan.
Menurut
Ibn Taimiyah bahwa kurikulum atau materi pelajaran yang utama yang harus
diberikan kepada anak didik adalah mengajarkan sesuai yang diajarkan Allah
kepdanya, dan medidiknya agar selalu patuh dan tunduk kepada Allah dan
Rasul-Nya.
Secara
ringkas dapat diemukakan melalui empat tahap:
a.
Kurikulum
yang berhubungan dengan mengesakan Tuhan(Tauhid) yaitu mata pelajaran yang
berkaitan dengan ayat-ayat Allah yang ada dalam al Quran dan ayat-ayat-Nya yang
ada di jagat raya dan diri manusia sendiri.
b.
Kurikulum
yang berhubungan dengan mengetahui secara mendalam (ma’rifat) terhadap
ilmu-ilmu Allah yaitu pelajaran yang ada hubungannya dengan upaya melakukan
penyelidikan secara mendalam terhadap semua makhluk Allah.
c.
Kurikulum
yang berhubungan dengan upaya yang mendorong manusia mengetahui secar mendalam
terhadap kekuasaan(qadrat) Allah, yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan
mengetahui pembagian makhluk Allah meliputi berbagai aspeknya.
d.
Kurikulum
yang berhubungan dengan upaya yang mendorong untuk mengetahui
perbuata-perbuatan Allah, yaitu dengan melakukan penelitian secar cermat
terhadap berbagai ragam kejadian dan peristiwa yang nampak dalam wujud yang
beraneka ragam.
Pembedaan ilmu oleh Ibn Taimiyah:
a.
Ilmu
yang dapat menyempurnakan Agama dan akal, ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu
pertama ilmu yang berkaitan dengan mendidik, mengajar, dan membimbing manusia
tentang akidah, kecakapan individual dan kemasyarakatan, yang semua ini dinamai
ilmu sam’iyat karena semua itu datang berdasarkan informasi yang didengar dari
wahyu dan utusan Tuhan. Kedua ilmu yang berhbungan dengan pembinaan fisik dan
akal, seperti ilmu kedokteran, matematika, fisika, dan astronomi, semua ini
bersifat aqliyah, karena terhadap ilmu itu agama hanya mendorong dan memberi
petunjuk saja selanjutnya diserahkan akal untuk memperdalam, mengkaji, dan
mengklasifikasikannya secara seksama.
b.
Ruang
lingkup kurikulum. Yang pertama ilmu agama yaitu yang berkenaan dengan
mengetahui yang hak dan batil, petunjuk dan larangan, yang secara keseluruhan
termaktub dialam Al Quran dan As Sunnah. Kedua, ilmu ‘aqliyah yaitu agama
menilai cukup dengan dalil, kemudian menyerahkannya kepada akal dan panca indra
untuk membahasnya, seperti ilmu kedokteran. Ketiga, ilmu askariyah yaitu ilmu
yang menjawab kebutuhan zaman dan memenuhi para peneliti yang menghendaki agar
pendidikan tetap sejalan dengan perkembangan masyarakat.
c.
Bahasa
pengantar dalam pengajaran. Ibn Taimiyah menganjurkan agar mewajibkan
penggunaan bahasa arab dalam pengajaran dan percakapan.
d.
Metode
pengajaran, dibagi dalam dua bagian. Pertama metode ilmiyah yaitu daya
berpikir, ini menghasilkan ma’rifat dan ilmu. Kedua metode iradiyah yaitu
kecenderugan untuk mengamalkan apa yang dipirkan.
D.
Konsep
Pendidikan Menurut Ibnu Sina.
1.
Tujuan
Pendidikan.
Menurut
Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh
potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu
perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu tujuan pendidikan
menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat
hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian
yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang
dilmilikinya.[9]
Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat
keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dsb.
Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu
mengerjakan pekerjaan secara professional.
Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut
tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang
terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus
mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga
harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai
khalifah di masyarakat.
2.
Kurikulum
Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat
perkembangan usia anak didik. Untuk usia anak 3 sampai 5 tahun misalnya,
menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti,
kebersihan, seni suara, dan kesenian.
Kurikulum untuk usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah
mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-qur’an, pelajaran agama, pelajaran
sya’ir dan pelajaran olah raga. Pelajaran membaca dan menghafal menurut Ibnu
Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan
bacaan ayat-ayat al-qur’an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari
agama islam seperti pelajaran Tfasi Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, Akhlak dan
pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya Al-qur’an.
Selanjutnya kurikiulum untuk usia 14 tahun ke atas menurut Ibnu
Sina mata pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya, namun pelajaran
tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak.
Startegi
penyusunan kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina juga didasarkan pada pemikiran
yang bersifat pragmatis fungsional, yakni dengan melihat segi kegunaan dari
ilmu dan keterampilan yang dipelajari
dan dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya. Pengalaman
pribadinya dalam mempelajari berbagai macam, ilmu dan keterampialan ia coba
tuangkan dalam konsep kurikulumnya.
3.
Metode
Pengajaran
Metode
pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain :
a.
Metode
talqin : Digunakan untuk mengajarkan membaca al-qur’an, dimulai dengan cara
memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada anak didik sebagian demi sebagian.
Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan
tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti
ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya.
b.
Metode
demontrasi : digunakan dalam cara mengajar menulis. terlebih dahulu guru
mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muridnya. Setelah itu
barulah menyuruh para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan
dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.
c.
Metode
pembiasaan dan teladan: Pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran
yang paling efektif, khususnya mengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum
dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan denganm perkembangan
jiwa si anak.
d.
Metode
diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan
pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk
dibahas dan dipecahkan bersama.
e.
Metode
magang: dengan cara menggabungkan teori dan praktek.
f.
Metode
penugasan: guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan
belajar.
BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpukan bahwa tujuan pendidikan yang
digagas oleh para pemikir dalam garis besarnya adalah untuk mencapapi
kebahagiaan dunia dan akhirat kelak. Setiap tindakan dan aktivitas harus
berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan, karena dapat
mengetahui tujuan tersebut dapat berfungsi sebagai standar utuk mengakhiri
usaha, serta mengarahkan usaha yang dilalui dan merupakan titik pembatasan
ruang gerak agar terfokus pada tujuan. Dalam muatan kurikulumnya mereka berpeda
pendapat dalam penggolonganya tetapi tetap sama tujuannya, serta metode
pengajarannya juga berbeda.
Demikian makalah ini di buat dan di presentasikan dengan tujuan
peningkatan wawasan dan pengetahuan terkait konsep pendidikan menurut Ibn Sina.
Harapannya makalah ini bermanfaat bagi penulis atau pemateri serta audience dan
juga bagi orang lain terkhusus bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia
pendidikan.
Daftar Pustaka
Muhaimin.1993.Pemikiran Pendidikan Islam.
Bandung; Trigenda
Nata, Abbudi.2001.Pemikiran Para Tokoh
Pendidikan Islam,Jakarta:PT RajaGrafindo
Ramayulis.2009.Filsafat Pendidikan
Islam.Jakarta: Kalam mulia.
Samsul, Nizar.Filsafat Pendidikan
Islam Pendekatan Historis, teoritis dan Praktis.Jakarta
: Ciputat Pers.
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/ibnu-khaldun-pemikiran-pendidikan-islam.html
[1] Nizar Samsul,Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, teoritis
dan Praktis, Jakarta : Ciputat Pers,hlm.159
[2] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam,
Jakarta: Kalam mulia, 2009, hlm. 283.
[3] Muhaimin,Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung; Trigenda,1993,hlm.189
[4] http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/ibnu-khaldun-pemikiran-pendidikan-islam.html
[5] Abbudin Nata,Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,Jakarta:PT RajaGrafindo,2001,hlm.
87
[6] Ibid, hlm.88
[7] Ibid, hlm. 95
[8] Ibid, hlm. 142
[9] Muhaimin, op.cit, hlm. 64
Tidak ada komentar:
Posting Komentar