Minggu, 02 Maret 2014



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pendidikan Islam sendiri pada hakekatnya adalah suatu sistem pendidikan yang memungkinkan seseorang dapat mengarahkan kehidupan sesuai sengan cita-cita islam, sehingga dengan mudah ia dapat membentuk hidupnya sesuai dengan ajaran islam. Pendidikan merupakan faktor penting yang menentukan kehidupan manusia. Pendidikan juga sebagai penopang sebuah Negara, pendidikan merupakan suatu keniscayaan bagi sebuah negara yang menginginkan pencapaian kemajuan dalam segala bidang. Tanpa SDM yang mumpuni kemajuan sebuah negara adalah mustahil dan untuk menghasilkan SDM yang mumpuni inilah dibutuhkan sistem pendidikan yang baik. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia pendidikan diartikan sebagai perbuatan, (hal, cara dan sebagainya) mendidik. Selain itu, pendidikan dapat diartikan sebagai segala kegiatan yang berorientasi pada pengembangan, pengarahan dan pembentukan kepribadian. Melalui pendidikan, manusia bisa meningkatkan kualitas hidupnya. Kemajuan yang dicapai peradaban Islam di zaman kekhalifahan tak lepas dari keberhasilan dunia pendidikan. Pada zaman itu, kota-kota Islam telah menjelma menjadi pusat pendidikan dan peradaban yang sangat maju. Perkembangan dunia pendidikan tentunya tidak akan terlepas dari sumbangsih para ilmuwan yang mencurahkan segala perhatiannya pada dunia pendidikan ini. Begitu pun yang dilakukan oleh para ulama sebagai yang merasa berkewajiban untuk menyebarluaskan ilmu-Nya. Ibnu Khaldun, al Ghazali, Ibn Taimiyah dan yang lainnya adalah intelektual muslim yang mempunyai andil terhadap pendidikan, dimana mereka memberikan pemikirannya tentang konsep pendidikan.
B.     Rumusan Masalah
Dari uraian diatas timbul beberapa pertanyaan yang akan dibahas dalam makalah ini :
1.      Bagaimana konsep pendidikan menurut Ibnu Kholdun, al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina?
2.      Bagaimana kurikulum pendidikan menurut Ibn Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina?
C.     Tujuan
Dari pertanyaan diatas, tujuan ditulisnya makalah ini adalah :
1.      Untuk mengetahui konsep pendidikan menurut Ibnu Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina.
2.      Untuk mengetahui kurikulum  pendidikan yang digagas Ibnu Khaldun, Al Ghazali, Ibn Taimiyah dan Ibn Sina.













BAB II
PEMBAHASAN
A.    Konsep pendidikan menurut Ibn Khaldun.
1.      Tujuan pendidikan
a.       Pengembangan kemahiran dalam bidang tertentu.  Potensi kemahiran tidak bisa dimiliki oleh setiap orang, kecuali setelah ia benar-benar memahami dan mendalami satu disiplin tertentu. Dalam hal ini para pakar (ilmuwan) yang memiliki kemahiran secara sempurna. Sementara untuk sampai pada tahap ini diperlukan pendidikan yang sistematis dan mendalam.
b.      Penguasaan keterampilan profesional sesuai dengan tuntutan zaman. Dalam hal ini pendidikan hendaknya ditujukan untuk memperoleh keterampilan yang tinggi pada profesi tertentu. Pendidikan yang meletakkan keterampilan sebagai salah satu tujuan yang hendak dicapai, dapat diartikan sebagai upaya mempertahankan dan memajukan peradaban secara keseluruhan.
c.       Pembinaan pemikiran yang baik. Kemampuan berfikir merupakan garis pembeda antara manusia dengan binatang. Oleh karena itu, pendidikan hendaknya diformat dan dilaksanakan dengan terlebih dahulu memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan potensi-potensi psikologis peserta didik. Melalui pengembangan akal, akan dapat membimbing peserta didik untuk menciptakan hubungan kerjasama sosial dalam kehidupannya, guna mewujudkan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat.[1]

d.      Meningkatkan kerohanian manusia. Dengan pendidikan manusia akan dapat melaksanakan dan menjalankan praktek ibadah dengan benar, zikir , khalwat   ( menyendiri), mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan beribadah sebagaimana yang dilakukan para sufi.[2]
2.      Kurikulum pendidikan
Pemikiran khaldun tentang kurikulum pendidikan dapat dilihat dari konsep epistemologinya, menurutnya ilmu pengetahuan dalam kebudayaan umat islam dapat dibagi kepada dua bagian, yaitu: ilmu pengetahuan syar’iyyah dan ilmu pengetahuan filosofis. Ilmu pengetahuan syar’iyyah berkenaan dengan hukum dan ajaran agama islam, ilmu tersebut diantaranya adalah tentang Al-Quran, hadist, prinsip-prinsip syariah, fiqh, teologi, dan sufisme. Sementara ilmu pengetahuan filosofis meliputi : logika, ilmu pengetahuan alam (fisika), dan matematika. Ilmu pengetahuan filosofis juga sering disebut sains alamiah. Hal ini disebabkan karena dengan potensi akalnya, setiap orang memiliki kemampuan untuk menguasai dengan baik. Ilmu pengetahuan syar’iyyah dan filosofis merupakan pengetahuan yang ditekuni manusia (peserta didik) dan saling berinteraksi, baik dalam proses memperoleh atau proses mengajarkannya. Konsepsi ini kemudian merupakan pilar dalam merekontruksi kurikulum pendidikan islam yang ideal, yaitu kurikulum pendidikan yang mampu mengantarkan peserta didik yang memiliki kemampuan membentuk dan membangun peradaban umat manusia.[3]
3.      Proses Pengajaran.
Menurut Ibnu Khaldun pengajaran dipandang suatu skill, karena itu, ia melakukan reaksi dan rekonstruksi terhadap keformalan kosong metodologi pengajaran pada zamannya. Metode yang lazim dipakai pada masa itu adalah drill dan hafalan, sehingga lahir budaya verbalistik dan membeo. Dari realitas yang terjadi ini, memunculkn gagasan pengajaran secara tiga tahap yaitu:[4]
a.       Penyajian global. Pertama guru menyajikan kepada subjek didik hak-hal pokok, problem-problem prinsipil dari setiap materi pembahasan dalam bab-bab. Keteranga-keterangan juga diberikan secara global dengan memperhatikan potensi intelek dan kesiapan subjek dalam menerima palajaran. Apabila dengan cara ini seluruh pembahasan pokok dikuasai, maka dia telah memperoleh satu makala dalam cabang ilmu yang ia pelajari yang masih bersifat persial.
b.      Pengembangan( al-Syarh wal bayan). Guru menyajikan dan melatih kembali pengetahuan atau keterampilan dalam pokok bahasan itu kepada anak didik dalam taraf yang lebih tinggi. Pada tahapan ini guru harus menjelaskan aspek-aspek yang terjadi kontradiksi di dalamnya. Disertai dengan ragam pandangan teori yang terdapat pada mareti tersebut. Pada tahap ini pembahasan keseluruhannya sekali lagi diliput hunggi makalah subjek menjadi lebih sempurna.
c.       Penyimpulan( takhallus). Pada tahapan terakhir ini guru secara mendalam menyajikan pokok bahasan lebih mendalam dan rinci dalam konteks yang menyeluruh. Semua masalah yang dianggap urgen, sulit serta belum jelas dituntaskan pada tahapan ini. Pada tahapan penugasan memungkinkan pencapaian makalah subjek belajar lebih sempurna.

Ibnu Khaldum mengemukakan teori penstrukturan pengajaran tiga tahapan ini merupakan hasil analisis observasi terhadap metodologi pengajaran yang diterapkan pada masa itu.

B.     Konsep Pendidikan Menurut Al Ghazali.
1.      Tujuan Pendidikan Al Ghazali.
Rumusan tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan rumusan filsafat atau pemikiran yang mendalam tentang pendidikan. Rumusan tujuan akan menentukan aspek kurikulum, metode, guru dan lainnya yang berkaitan dengan pendidikan. Dari hasil studi terhadap pemikiran Al-Ghazali dapat diketahui dengan jelas, bahwa tujuan akhir yang ingin dicapai melalui kegiatan pendidikan ada dua. Pertama, tercapainya kesempurnaan insani yang bermuara pada pendekatan diri kepada Allah, dan kedua kesempurnaan insani yang bermuara pada kebahagiaan dunia dan akhirat. Karena itu ia bercita-cita mengajarkkan manusia agar mereka sampai pada sasaran-sasaran yang merupakan tujuan akhir dan maksud pendidikan itu. Tujuan ini tampak bernuansa religius dan moral, tanpa mengabaikan masalah duniawi.[5] Tetapi dalam pandangannya, mempersiapkan diri untuk masalah-masalah dunia itu hanya dimaksudkan sebagai jalan menuju kebahagiaan hidup di alam akhirat yang lebih utama dan kekal.
      Akan tetapi pendapat Al-Ghazali tersebut, di samping bercorak agamis yang merupakan ciri spesifik pendidikan islam. Tampak pula cenderung kepada sisi kerohanian. Dan kecenderungan tersebut menurut keadaannya yang sebenarnya, sejalan dengan filsafat al-Ghazali yang bercorak tasawuf. Maka sasaran pendidikan, menurut Al-Ghazali adalah kesepurnaan insani dunia dan akhirat. Dan manusia akan sampai kepada tingkat kesempurnaan itu hanya dengan mengusai sifat keutamaan melalui jalur ilmu. Keutamaan itulah yang akan membuat dia bahagia di dunia dan mendekatkan dia kepada Allah SWT.
2.      Kurikulum Pendidikan.
Konsep kurikulum yang dikemukakan Al-Ghazali terkait erat dengan konsepnya mengenai ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Al-Ghazali ilmu terbagi kepada tiga bagian, sebagai berikut :[6]
Pertama, ilmu-ilmu yang terkutuk baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu-ilmu yang tidak ada manfaatnya, baik di dunia maupun diakhirat, seperti ilmu sihir, ilmu nujum dan ilmu ramalan Al-Ghazali menilai ilmu tersebut tercela karena ilmu-ilmu tersebut terkadang dapat menimbulkan mudharat (kesusahan) baik bagi yang memilikinya, maupun bagi orang lain.
Kedua, ilmu-ilmu yang terpuji baik sedikit maupun banyak, yaitu ilmu yang erat kaitannya dengan peribadatan dan macam-macamnya, seperi ilmu yang berkaitan dengan kebersihan diri dari cacat dan dosa serta ilmu yang dapat menjadi bekal bagi seseorang untuk mengetahui yang baik dan melaksanakannya, ilmu-ilmu yang mengajarkan manusia tentang cara-cara mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, serta dapat membekali hidupnya di akhirat.
Ketiga, ilmu-ilmu yang terpuji dalam kadar tertentu, atau sedikit dan tercela jika dipelajarinya secara mendalam, kerena dengan mempelajarinya secara mendalam itu dapat menyebabkan terjadinya kekacauan dan kesemprawutan antara keyakinan dan keraguan, serta dapat pula membawa kepada kekafiran, seperti ilmu filsafat. Mengenai ilmu filsafat dibagi oleh Al-Ghazali menjadi ilmu matematika, ilmu-ilmu logika, ilmu ilahiyat, ilmu fisika, ilmu politik dan ilmu etika.
Dalam menyusun kurikulum pelajaran, Al-Ghazali memberi perhatian khusus pada ilmu-ilmu agama dan etika sebagaimana dilakukannya terhadap ilmu-ilmu yang sangat menentukan bagi kehidupan masyarakat. Dengan kata lain, ia mementingkan sisi yang faktual dalam kehidupan, selain itu al-Ghazali juga menekankan sisi-sisi budaya. Dari sifat dan corak ilmu-ilmu yang dikemukakan di atas, terlihat dengan jelas bahwa mata pelajaran yang seharusnya diajarkan dan masuk ke dalam kurikulum menurut Al-Ghazali didasarkan pada dua kecenderungan sebagai berikut:
a.       Kecenderungan agama dan tasawuf. Kecenderungan ini membuat Al-Ghazali menempatkan ilmu-ilmu agama di atas segalanya dan memandangnya sebagai alat untuk mensucikan diri dan membersihkannya dari pengaruh kehidupan dunia. Dengan kecenderungan ini, maka Al-Ghazali sangat mementingkan pendidikan etika, karena menurutnya ilmu ini bertalian erat dengan pendidikan agama.
b.   Kecenderungan pragmatis. Kecenderungan ini tampak dalam karya tulisnya. Al-Ghazali beberapa kali mengulangi penilaiannya terhadap ilmu berdasarkan manfaatnya bagi manusia. Baik untuk kehidupan di dunia, maupun untuk kehidupan diakhirat. Bagi Al-Ghazali setiap ilmu harus dilihat dari segi fungsi dan kegunaannya dalam bentuk amaliah. Dan setiap amaliah yang disertai ilmu itu harus pula disertai dengan kesungguhan dan niat yang tulus ikhlas.
      Dengan melihat sisi pemanfaatan dari suatu ilmu ini, tampak Al-Ghazali tergolong sebagai penganut paham pragmatis teologis. Yaitu pemanfaatan yang didasarkan atas tujuan iman dan dekat dengan Allah SWT. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari sikapnya sebagai seorang sufi yang memiliki trend praktis dan faktual.
3.      Metode
Menurut al-Ghazali metode perolehan ilmu dapat dibagi berdasarkan jenis ilmu itu sendiri, yaitu pertama Ilmu kasbi dapat diperoleh melalui metode atau cara berfikir sistematik dan metodik yang dilakukan secara konsisten dan bertahap melalui proses pengamatan, penelitian, percobaan dan penemuan, yang mana memperolehnya dapat menggunakan pendekatan ta’lim insani. Kedua Ilmu ladunni dapat diperoleh orang-orang tertentu dengan tidak melalui proses perolehan ilmu pada umumnya tetapi melalui proses pencerahan oleh hadirnya cahaya ilahi dalam qalbu, yang mana memperolehnya adalah menggunakan pendekatan ta’lim rabbani.
Selain itu, al-Ghazali juga memakai pendekatan behavioristik dalam pendidikan yang dijalankan. Hal ini terlihat dari pernyataannya, jika seorang murid berprestasi hendaklah seorang guru mengapresiasi murid tersebut, dan jika melanggar hendaklah diperingatkan, bentuk apresiasi gaya al-Ghazali tentu berbeda dengan pendekatan behavioristik dalam Eropa modern yang memberikan reward dan punishment-nya dalam bentuk kebendaan dan simbol-simbol materi.
Menurut al-Ghazali, pendidikan tidak semata-mata sebagai suatu proses yang dengannya guru menanamkan pengetahuan yang diserap oleh siswa, yang setelah proses itu masing-masing guru dan murid berjalan di jalan mereka yang berlainan.[7] Lebih dari itu, ia adalah interaksi yang saling mempengaruhi dan menguntungkan antara guru dan murid dalam tataran sama, yang pertama mendapatkan jasa karena memberikan pendidikan dan yang terakhir dapat mengolah dirinya dengan tambahan pengetahuan yang didapatkannya.

C.     Konsep Pendidikan Menurut Ibn Taimiyah.
1.      Tujuan Pendidikan.
Menurut Ibn Taimiyah, tujuan pendidikan dapat dibagi tiga bagian:[8]
a.       Tujuan Individual. Pada bagian ini tujuan pendidikan  diarahkan pada terbentuknya pribadi muslim yang baik, yaitu seseorang yang berfikir, merasa, dan bekerja pada berbagai lapangan kehidupan pada setiap waktu sejalan dengan apa yang diperintahkan al Quran dan as Sunnah.
b.      Tujuan Sosial, diarahkan pada terciptanya masyarakat yang baik yang sejalan dengan ketentuan al Quran dan as Sunnah. Tujuan tersebut sejalan dengan pendapatnya yang mengatakan bahwa setiap manusia memiliki dua sisi kehidupan yaitu sisi kehidupan individual yang berhubungan dengan beriman kepada Allah; dan sisi kehidupan sosial yang berhubungan dengan masyarakat, tempat dimana manusia itu hidup. Pada tujuan sosial ini pendidikan diarahkan agar dapat melirkan manusia-manusia yang dapat hidup bersama dengan orang lain, saling membantu, mensehati,dan mengatasi masalah.
c.       Tujuan Dakwah Islamiyah. Untuk mencapainya dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu menyebar luaskan ilmu dan ma’rifat yang didatangkan al Quran; dengan cara berijtihad yang sungguh-sungguh sehingga kalimat Allah dapat berdiri tegak.

2.      Kurikulum Pendidikan.
Menurut Ibn Taimiyah bahwa kurikulum atau materi pelajaran yang utama yang harus diberikan kepada anak didik adalah mengajarkan sesuai yang diajarkan Allah kepdanya, dan medidiknya agar selalu patuh dan tunduk kepada Allah dan Rasul-Nya.
Secara ringkas dapat diemukakan melalui empat tahap:
a.       Kurikulum yang berhubungan dengan mengesakan Tuhan(Tauhid) yaitu mata pelajaran yang berkaitan dengan ayat-ayat Allah yang ada dalam al Quran dan ayat-ayat-Nya yang ada di jagat raya dan diri manusia sendiri.
b.      Kurikulum yang berhubungan dengan mengetahui secara mendalam (ma’rifat) terhadap ilmu-ilmu Allah yaitu pelajaran yang ada hubungannya dengan upaya melakukan penyelidikan secara mendalam terhadap semua makhluk Allah.
c.       Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong manusia mengetahui secar mendalam terhadap kekuasaan(qadrat) Allah, yaitu pengetahuan yang berhubungan dengan mengetahui pembagian makhluk Allah meliputi berbagai aspeknya.
d.      Kurikulum yang berhubungan dengan upaya yang mendorong untuk mengetahui perbuata-perbuatan Allah, yaitu dengan melakukan penelitian secar cermat terhadap berbagai ragam kejadian dan peristiwa yang nampak dalam wujud yang beraneka ragam.
Pembedaan ilmu oleh Ibn Taimiyah:
a.       Ilmu yang dapat menyempurnakan Agama dan akal, ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu pertama ilmu yang berkaitan dengan mendidik, mengajar, dan membimbing manusia tentang akidah, kecakapan individual dan kemasyarakatan, yang semua ini dinamai ilmu sam’iyat karena semua itu datang berdasarkan informasi yang didengar dari wahyu dan utusan Tuhan. Kedua ilmu yang berhbungan dengan pembinaan fisik dan akal, seperti ilmu kedokteran, matematika, fisika, dan astronomi, semua ini bersifat aqliyah, karena terhadap ilmu itu agama hanya mendorong dan memberi petunjuk saja selanjutnya diserahkan akal untuk memperdalam, mengkaji, dan mengklasifikasikannya secara seksama.
b.      Ruang lingkup kurikulum. Yang pertama ilmu agama yaitu yang berkenaan dengan mengetahui yang hak dan batil, petunjuk dan larangan, yang secara keseluruhan termaktub dialam Al Quran dan As Sunnah. Kedua, ilmu ‘aqliyah yaitu agama menilai cukup dengan dalil, kemudian menyerahkannya kepada akal dan panca indra untuk membahasnya, seperti ilmu kedokteran. Ketiga, ilmu askariyah yaitu ilmu yang menjawab kebutuhan zaman dan memenuhi para peneliti yang menghendaki agar pendidikan tetap sejalan dengan perkembangan masyarakat.
c.       Bahasa pengantar dalam pengajaran. Ibn Taimiyah menganjurkan agar mewajibkan penggunaan bahasa arab dalam pengajaran dan percakapan.
d.      Metode pengajaran, dibagi dalam dua bagian. Pertama metode ilmiyah yaitu daya berpikir, ini menghasilkan ma’rifat dan ilmu. Kedua metode iradiyah yaitu kecenderugan untuk mengamalkan apa yang dipirkan.

D.    Konsep Pendidikan Menurut Ibnu Sina.
1.      Tujuan Pendidikan.
Menurut Ibnu Sina, bahwa tujuan pendidikan harus diarahkan pada pengembangan seluruh potensi yang dimiliki seseorang ke arah perkembangannya yang sempurna, yaitu perkembangan fisik, intelektual dan budi pekerti. Selain itu tujuan pendidikan menurut Ibnu Sina harus diarahkan pada upaya mempersiapkan seseorang agar dapat hidup dimasyarakat secara bersama-sama dengan melakukan pekerjaan atau keahlian yang dipilihnya sesuai dengan bakat, kesiapan, kecendrungan dan potensi yang dilmilikinya.[9]
Ibnu Sina juga mengemukakan tujuan pendidikan yang bersifat keterampilan yang ditujukan pada pendidikan bidang perkayuan, penyablonan dsb. Sehingga akan muncul tenaga-tenaga pekerja yang professional yang mampu mengerjakan pekerjaan secara professional.
Selain itu tujuan pendidikan yang dikemukakan Ibnu Sina tersebut tampak didasarkan pada pandangannya tentang Insan Kamil  (manusia yang sempurna), yaitu manusia yang terbina seluruh potensi dirinya secara seimbang dan menyeluruh. Selain harus mengenbangkan potensi dan bakat dirinya secara optimal dan menyeluruh, juga harus mampu menolong manusia agar eksis dalam melaksanakan fungsinya sebagai khalifah  di masyarakat.
2.      Kurikulum
Konsep Ibnu Sina tentang kurikulum didasarkan pada tingkat perkembangan usia anak didik. Untuk usia anak 3 sampai 5 tahun misalnya, menurut Ibnu Sina perlu diberikan mata pelajaran olahraga, budi pekerti, kebersihan, seni suara, dan kesenian.
Kurikulum untuk usia 6 sampai 14 tahun menurut Ibnu Sina adalah mencakup pelajaran membaca dan menghafal al-qur’an, pelajaran agama, pelajaran sya’ir dan pelajaran olah raga. Pelajaran membaca dan menghafal menurut Ibnu Sina berguna di samping untuk mendukung pelaksanaan ibadah yang memerlukan bacaan ayat-ayat al-qur’an, juga untuk mendukung keberhasilan dalam mempelajari agama islam seperti pelajaran Tfasi Al-Qur’an, Fiqh, Tauhid, Akhlak dan pelajaran agama lainnya yang sumber utamanya Al-qur’an.
Selanjutnya kurikiulum untuk usia 14 tahun ke atas menurut Ibnu Sina mata pelajaran yang diberikan amat banyak jumlahnya, namun pelajaran tersebut perlu dipilih sesuai dengan bakat dan minat si anak.
Startegi penyusunan kurikulum yang ditawarkan Ibnu Sina juga didasarkan pada pemikiran yang bersifat pragmatis fungsional, yakni dengan melihat segi kegunaan dari ilmu dan keterampilan yang dipelajari  dan dipengaruhi oleh pengalaman yang terdapat dalam dirinya. Pengalaman pribadinya dalam mempelajari berbagai macam, ilmu dan keterampialan ia coba tuangkan dalam konsep kurikulumnya.
3.      Metode Pengajaran
Metode pengajaran yang ditawarkan Ibnu Sina antara lain :
a.       Metode talqin : Digunakan untuk mengajarkan membaca al-qur’an, dimulai dengan cara memperdengerkan bacaan al-qur’an kepada anak didik sebagian demi sebagian. Setelah itu anak tersebut disuruh mendengarkan dan disuruh mengulangi bacaan tersebut perlahan-lahan dan dilakukan berulang-ulang hingga hafal. Cara seperti ini dalam ilmu pendidikan modern dikenal dengan nama tutor sebaya.
b.      Metode demontrasi : digunakan dalam cara mengajar menulis. terlebih dahulu guru mencontohkan tulisan huruf hijaiyah di hadapan murid-muridnya. Setelah itu barulah menyuruh para murid untuk mendengarkan ucapan huruf-huruf  hijaiyyah sesuai dengan makhrajnya dan dilanjutkan dengan mendemonstrasikan cara menulisnya.
c.       Metode pembiasaan dan teladan: Pembiasaan adalah termasuk salah satu metode pengajaran yang paling efektif, khususnya mengajarkan akhlak. Cara tersebut secara umum dilakukan dengan pembiasaan dan teladan yang disesuaikan denganm perkembangan jiwa si anak.
d.      Metode diskusi dapat dilakukan dengan cara penyajian pelajaran dimana siswa dihadapkan pada suatu masalah yang dapat berupa pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
e.       Metode magang: dengan cara menggabungkan teori dan praktek. 
f.       Metode penugasan: guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.










BAB III
KESIMPULAN
Dari pemaparan diatas dapat disimpukan bahwa tujuan pendidikan yang digagas oleh para pemikir dalam garis besarnya adalah untuk mencapapi kebahagiaan dunia dan akhirat kelak. Setiap tindakan dan aktivitas harus berorientasi pada tujuan atau rencana yang telah ditetapkan, karena dapat mengetahui tujuan tersebut dapat berfungsi sebagai standar utuk mengakhiri usaha, serta mengarahkan usaha yang dilalui dan merupakan titik pembatasan ruang gerak agar terfokus pada tujuan. Dalam muatan kurikulumnya mereka berpeda pendapat dalam penggolonganya tetapi tetap sama tujuannya, serta metode pengajarannya juga berbeda.
Demikian makalah ini di buat dan di presentasikan dengan tujuan peningkatan wawasan dan pengetahuan terkait konsep pendidikan menurut Ibn Sina. Harapannya makalah ini bermanfaat bagi penulis atau pemateri serta audience dan juga bagi orang lain terkhusus bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia pendidikan.













Daftar Pustaka

 Muhaimin.1993.Pemikiran Pendidikan Islam. Bandung; Trigenda
 Nata, Abbudi.2001.Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,Jakarta:PT RajaGrafindo
Ramayulis.2009.Filsafat Pendidikan Islam.Jakarta: Kalam mulia.
Samsul, Nizar.Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, teoritis dan                                             Praktis.Jakarta : Ciputat Pers.
http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/ibnu-khaldun-pemikiran-pendidikan-islam.html

 
           


[1] Nizar Samsul,Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, teoritis dan Praktis, Jakarta : Ciputat Pers,hlm.159
[2] Ramayulis, Filsafat Pendidikan Islam,  Jakarta: Kalam mulia, 2009, hlm. 283.
[3] Muhaimin,Pemikiran Pendidikan Islam, Bandung; Trigenda,1993,hlm.189
[4] http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/12/ibnu-khaldun-pemikiran-pendidikan-islam.html
[5] Abbudin Nata,Pemikiran Para Tokoh Pendidikan Islam,Jakarta:PT RajaGrafindo,2001,hlm. 87
[6] Ibid, hlm.88
[7] Ibid, hlm. 95
[8] Ibid, hlm. 142
[9] Muhaimin, op.cit, hlm. 64

Tidak ada komentar:

Posting Komentar